Minggu, 21 Oktober 2012
ekstraksi pewarna alami
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK
Nama /NIM : 1. Evy Yunarti Anshar/1005025105
2. Ike Lestari/1005025126
3. Nadiah Husniah/1005025101
4. Sitti Fatimah/1005025127
5. Sri Nurwahyuni/1005025099
Kelompok : Wortel Perlakuan 4
Kelas : Reguler Sore
Program Studi : Pendidikan Kimia
Percobaan ke- : I (satu)
Judul Percobaan : Ekstraksi Pewarna Wortel
Samarinda, Oktober 2012
Mengetahui, Ketua Kelompok
Asisten Praktikum,
....................................... Sri Nurwahyuni
NIM.1005025099
PERCOBAAN I
EKSTRAKSI PEWARNA ALAMI WORTEL
A. TUJUAN
Untuk mengetahui cara membuat pewarna alami dari ekstraksi wortel dengan perbandingan pelarut etanol: asam asetat: air sebesar 4ml: 0.2ml: 2ml
B. DASAR TEORI
Penggunaan zat pewarna pada makanan dan minuman merupakan upaya manusia untuk meningkatkan selera makan. Meskipun bau, rasa dan teksturnya menarik, namun kalau warnanya tidak sesuai dengan warna bahan makanan yang baik, makanan tersebut menjadi tidak menarik.(putri, dkk)
Bahan baku pewarna makanan dan pencelup dapat diperoleh dari bahan baku alami maupun buatan. Bahan baku alami merupakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, ekstraksi sayuran maupun buah-buahan. Sedangkanbahan baku buatan biasanya diperoleh melalui sintesis
Pewarna alami merupakan pewarna (pigmen) yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau hewan contohnya karotenoid, klorofil, tannin, dan kuinon. Walaupun terdapat secara alami dalam tumbuhan dan hewan, pewarna alami juga dapat timbul akibat proses pemanasan, penyimpanan atau proses-proses pengolahan pangan yang lain. Jenis-jenis pewarna alami adalah :
1. Karoten
Menghasilkan warna jingga sampai merah. Digunakan untuk mewarnai produk-produk minyak dan lemak seperti minyak goreng dan margarin. Dapat diperoleh dari pepaya, wortel dan lain-lain.
2. Biksin
Memberikan warna kuning mentega sampai kuning buah persik. Biksin diperoleh dari biji pohon Bixa orellana yang terdapat di daerah tropis. Biksin sering digunakan untuk mewarnai mentega, margarin, minyak jagung, dan salad dressing.
3. Karamel,
Berwarna cokelat gelap hasil dari pemanasan terkontrol molase, hidrolisis (pemecahan) zat pati, dekstrosa, gula pasir, laktosa, sirup malt, dan gula invert. Karamel tediri dari tiga jenis; karamel tahan asam yang digunakan untuk minuman berkarbonat (misalnya soda); karamel cair untuk roti, biskuit, dan cake; serta karamel kering. Gula kelapa yang selain berfungsi sebagai pemanis, juga memberikan warna merah kecoklatan pada minuman es kelapa ataupun es cendol.
4. Chocineal,
Diperoleh dari hewan Coccus cacti betina yang dikeringkan (hewan ini hidup pada sejenis kaktus di kepulauan Canary dan Amerika Selatan), bisa memberikan warna merah.
5. Karmin,
Diperoleh dengan cara mengekstraksi asam karminat dan dilapisi alumunium. Biasa digunakan untuk melapisi bahan berprotein, berwarna merah jambu.
6. Klorofil
Menghasilkan warna hijau, diperoleh dari daun. Banyak digunakan untuk makanan. Saat ini bahkan mulai digunakan pada berbagai produk kesehatan. Pigmen klorofil banyak terdapat pada dedaunan (misal daun suji, pandan, katuk dan sebaginya). Daun suji dan daun pandan, daun katuk sebagai penghasil warna hijau untuk berbagai jenis kue jajanan pasar. Selain menghasilkan warna hijau yang cantik, juga memiliki harum yang khas.
7. Antosianin
Penyebab warna merah, oranye, ungu dan biru banyak terdapat pada bunga dan buah-buahan seperti bunga Mawar, Pacar Air, Kembang Sepatu, Bunga Tasbih/Kana, Krisan, Pelargonium, Aster Cina, Dan Buah Apel,Chery, Anggur, Strawberi, juga terdapat pada buah Manggis Dan Umbi ubi jalar. Bunga telang, menghasilkan warna biru keunguan. Bunga belimbing sayur menghasilkan warna merah. Penggunaan zat pewarna alami, misalnya pigmen antosianin masih terbatas pada beberapa produk makanan, seperti produk minuman (sari buah, juice dan susu).
8. Kurkumin
Berasal dari kunyit sebagai salah satu bumbu dapur sekaligus pemberi warna kuning pada masakan yang kita buat.
Macam – macam bahan yang menghasilkan warna alami
1. Daun Suji
Daun suji bisa dipakai untuk warna hijau. Biasanya daun suji dicampur dengan daun pandan, sehingga juga memberikan aroma harum pada makanan , kue atau minuman Anda. Cara membuatnya, iris halus daun suji dan daun pandan, haluskan dengan cara ditumbuk atau diblender, kemudian saring dan peras, tambahkan air kapur sirih sebagai pengawet, masukkan ke dalam botol tertutup dan simpan di lemari es.
2. Kayu Secang
Manfaatkan batang kayu secang untuk memberi warna merah pada makanan. Cara membuatnya, batang secang yang masih basah serut kemudian keringkan. Serutan batang secang yang telah kering rebus dengan air kemudian saring, campurkan ke dalam adonan atau bahan yang akan diwarnai. Kayu secang bisa diperoleh di toko yang menjual jamu tradisional.
3. Angkak
Angkak bisa menggantikan warna merah sintetis. Contoh penggunaan angkak untuk pewarna makanan atau minuman diantaranya adalah anggur, keju, sayuran, pasta ikan, kecap ikan, minuman beralkohol, aneka macam kue, dan produk olahan daging seperti sosis.Cara menggunakannya adalah diseduh dengan air panas, air seduhan pertama lebih baik dibuang karena rasanya pahit. Setelah seduhan ketiga baru saring lalu haluskan.
4. Bunga Telang
Bunga telang berwarna biru keunguan bisa digunakan sebagai warna alami biru pada makanan. Cara menggunakannya, cuci bersih bunga telang, remas-remas atau tumbuk dengan sedikit air matang, kemudian saring. Atau, rebus bunga telang hingga bunga layu dan airnya berwarna biru, kemudian saring dan ambil airnya. Jika ingin menyimpan untuk waktu yang lama,bunga telang keringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari, kemudian masukkan ke dalam kemasan kering dan tertutup.
5. Kunyit
Untuk mendapatkan warna kuning dari kunyit, parut kunyit hingga halus,kemudian peras atau campurkan langsung ke makanan.
6. Kluwek, Abu Merang, tinta cumi, dan daun pisang kering
Kluwek, abu merang dan tinta cumi serta daun pisang yang sudah kering dapat digunakan sebagai pewarna hitam alami untuk makanan. Misalnya untuk membuat kue yang berwarna hitam,bisa menggunakan abu merang dengan cara abu merang dibakar kemudian diayak, atau kluwak yang berkualitas baik dipecahkan, kemudian ambil daging buahnya, kemudian haluskan dan dicampur dengan bumbu lainnya. Bisa juga dengan tinta cumi yang dilarutkan dengan air.
7. Rosella
Dari buah rosella yang bisa dipakai kulitnya setelah dihancurkan kemudian disaring, diuapkan, dikeringkan, dan akhirnya terbentuk pigmen berwarna merah.
8. Daun Pandan
Daun pandan bisa menghasilkan warna hijau pada makanan, cara pembuatannya daun pandan cukup diblender sampai hancur lalu disaring atau diremas dengan air secukupnya.
9. Buah Stoberi
Stoberi dapat menghasilkan warna merah pada makanan, cara pembuatannya stoberi cukup diblender sampai hancur lalu disaring atau diremas dengan air secukupnya.
10. Buah Tomat
Tomat dapat menghasilkan warna orange pada makanan, cara pembuatannya tomat yang sudak matang cukup diblender sampai hancur lalu disaring atau diremas dengan air secukupnya.
11. Anggur
Untuk mendapatkan warna ungu, dapat dibuat dari kulit buah anggur yang dihaluskan, dan diperas airnya.
12. Wortel
Untuk mendapatkan warna orange dapat menggunakan sari wortel. Wortel diparut kemudian diperas airnya.
Kelebihan dan kekurangan pewarna alami
a. Kelebihan
1) Aman dikonsumsi
2) Warna lebih menarik
3) Terdapat zat gizi
4) Mudah didapat dari alam.
b. Kekurangan
1) Seringkali memberikan rasa dan flavor khas yang tidak diinginkan
2) Tidak stabil pada saat proses pemasakan
3) Konsentrasi pigmen rendah
4) Stabilitas pigmen rendah
5) Keseragaman warna kurang baik
6) Spektrum warna tidak seluas seperti pada pewarna sintetis
7) Susah dalam penggunaannya
8) Pilihan warna sedikit atau terbatas
9) Kurang tahan lama.
Wortel merupakan pewarna alami yang mengandung warna jingga sampai merah karena mengandung karoten, yang biasanya digunakan untuk mewarnai produk-produk minyak dan lemak seperti minyak goreng dan margarin. Wortel bermanfaat dalam menurunkan kadar kolesterol dalam darah, serta membantu pertahanan tubuh dari resiko kanker, terutama kanker paru-paru, kanker larynk (tenggorokan), esophagus (kerongkongan), prostat, kandung kemih, dan leher rahim. (wanibesak)
C. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
a. Bola Isap
b. Gelas kimia
c. Kain saring
d. Parutan
e. Pemanas listrik
f. Pipet tetes
g. Pipet skala
h. Pisau
i. Sendok
j. Talenan
k. Timbangan
l. Waterbah
2. Bahan
a. Air
b. Asam asetat (cuka)
c. Ethanol 85%
d. Wortel
D. PROSEDUR KERJA
a. Dikupas wortelnya, dicuci lalu ditiriskan.
b. Diparut wortelnya, kemudian ditimbang hasil parutan sebanyak 20 gram.
c. Ditambahkan etanol, asam asetat dan air dengan perbandingan 4: 0,2: 2
d. Dicampurkan dan diaduk hingga tercampur
e. Dipanaskan selama 5 menit dalam waterbath
f. Dituang campuran tersebut ke dalam botol dan diberi label
E. HASIL PENGAMATAN
Wortel : 20.048 gram
Warna : Orange
pH : 4
Jenis pengekstrak Volume (mL)=Etanol 96%;Asam asetat;Air=4;0.2;2
F. PEMBAHASAN Pembuatan pewarna alami dari wortel dengan menggunakan perbandingan pelarut etanol 96%, asam asetat dan air sebesar 4ml : 0.2ml : 2ml ini menghasilkan warna orange dengan pH 4 yang dilakukan dengan beberapa tahap. Pembuatan pewarna alami ini dilakukan dengan cara ekstraksi yaitu proses pemisahan yang mengikuti dua fase atau merupakan proses pemisahan komponen-komponen terlarut dari suatu campuran komponen tidak terlarut dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Dengan kata lain ekstraksi merupakan proses pemisahan dengan pelarut yang melibatkan perpindahan zat terlarut ke dalam pelarut. Pelarut organik yang umum digunakan untuk memproduksi konsentrat,ekstrak, absolut atau minyak atsiri dari bunga, daun, biji, akar, dan bagian lain dari tanaman adalah etil asetat, heksan, petroleum eter, benzen, toluen, etanol, isopropanol, aseton, dan juga air. Dalam ektraksi pewarna ini pelarut yang digunakan adalah etanol 96%, asam asetat dan air. Wortel dikupas dan dipotong-potong, pemotongan ini dilakukan karena semakin kecil luas permukaan, maka zat yang terkekstrak akan semakin banyak. Kemudian wortel diparut/ dapat juga diblender agar permukaannya semakin halus. Setelah itu hasil parutan wortel tersebut ditimbang sebesar 20.048 gram. Penimbangan dilakukan setelah proses pemotongan/parut wortel agar tidak terjadi penyusutan filtrat saat diparut. Tahapan selanjutnya, wortel yang sudah ditimbang ditambahkan dengan pelarut etanol, asam asetat dan air dengan perbandingan 4: 0.2: 2 ml kemudian diaduk hingga tercampur. Penambahan etanol berfungsi untuk melarutkan betakaroten wortel sedangkan penambahan asam asetat(cuka) berguna untuk mencegah proses fermentasi, sehingga sampel tidak mudah rusak. Kemudian ditambahkan air agar wortel tercampur rata dengan ketiga pelarut tersebut lalu disaring, proses penyaringan ini bertujuan untuk memisahkan filtrat yang mengandung senyawa hasil ekstraksi wortel dengan residu yang berupa daging wortel, penyaringan dilakukan dengan kain kasa lembut. Hasil penyaringan diperoleh cairan yang berwarna orange dengan aroma menyengat dari asam asetat. Cairan yang telah diperoleh tersebut dipanaskan dalam waterbath dengan suhu 50oC selama lima menit agar etanol dalam cairan tersebut menguap. Dari hasil ekstraksi tersebut diperoleh pH sebesar 4 untuk perbandingan etanol: asam asetat: air sebesar (4: 0.2: 2) sedangkan untuk perbandingan (2: 0.2: 4) diketahui memiliki pH sebesar 5. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah proporsi ethanol dan semakin tinggi proporsi air yang digunakan dapat meningkatkan konsentrasi karoten yang dihasilkan. G. KESIMPULAN Dari percobaan ekstraksi pewarna wortel tersebut dapat disimpulkan bahwa : 1. Ekstraksi wortel menghasilkan warna orange 2. Ekstraksi pewarna wortel dengan perbandingan pelarut etanol, asam asetat dan air sebesar ( 4: 0.2: 2) memiliki pH 4 3. pH dan pemanasan mempengaruhi stabilitas karoten pada wortel DAFTAR PUSTAKA Latifah, vyeh., 2011. Industri Pembuatan Bahan Pewarna & Pencelup. Diperoleh dari: http://id.scribd.com/doc/74243779/Makalah-Pemb-bahan-Pewarna diakses pada tanggal: 12-10-2012 Seran, emel., 2011. Pewarna Makanan. Diperoleh dari:http://wanibesak.wordpress.com /2011/06/01/pewarna-makanan/ diakses pada tanggal: 12-10-2012 Winarti, sri, dkk., 2008. Ekstraksi dan Stabilitas Ubi Jalar Ungu sebagai Pewarna Alami. Jurusan teknologi pangan UPN Veteran. Surabaya
F. PEMBAHASAN Pembuatan pewarna alami dari wortel dengan menggunakan perbandingan pelarut etanol 96%, asam asetat dan air sebesar 4ml : 0.2ml : 2ml ini menghasilkan warna orange dengan pH 4 yang dilakukan dengan beberapa tahap. Pembuatan pewarna alami ini dilakukan dengan cara ekstraksi yaitu proses pemisahan yang mengikuti dua fase atau merupakan proses pemisahan komponen-komponen terlarut dari suatu campuran komponen tidak terlarut dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Dengan kata lain ekstraksi merupakan proses pemisahan dengan pelarut yang melibatkan perpindahan zat terlarut ke dalam pelarut. Pelarut organik yang umum digunakan untuk memproduksi konsentrat,ekstrak, absolut atau minyak atsiri dari bunga, daun, biji, akar, dan bagian lain dari tanaman adalah etil asetat, heksan, petroleum eter, benzen, toluen, etanol, isopropanol, aseton, dan juga air. Dalam ektraksi pewarna ini pelarut yang digunakan adalah etanol 96%, asam asetat dan air. Wortel dikupas dan dipotong-potong, pemotongan ini dilakukan karena semakin kecil luas permukaan, maka zat yang terkekstrak akan semakin banyak. Kemudian wortel diparut/ dapat juga diblender agar permukaannya semakin halus. Setelah itu hasil parutan wortel tersebut ditimbang sebesar 20.048 gram. Penimbangan dilakukan setelah proses pemotongan/parut wortel agar tidak terjadi penyusutan filtrat saat diparut. Tahapan selanjutnya, wortel yang sudah ditimbang ditambahkan dengan pelarut etanol, asam asetat dan air dengan perbandingan 4: 0.2: 2 ml kemudian diaduk hingga tercampur. Penambahan etanol berfungsi untuk melarutkan betakaroten wortel sedangkan penambahan asam asetat(cuka) berguna untuk mencegah proses fermentasi, sehingga sampel tidak mudah rusak. Kemudian ditambahkan air agar wortel tercampur rata dengan ketiga pelarut tersebut lalu disaring, proses penyaringan ini bertujuan untuk memisahkan filtrat yang mengandung senyawa hasil ekstraksi wortel dengan residu yang berupa daging wortel, penyaringan dilakukan dengan kain kasa lembut. Hasil penyaringan diperoleh cairan yang berwarna orange dengan aroma menyengat dari asam asetat. Cairan yang telah diperoleh tersebut dipanaskan dalam waterbath dengan suhu 50oC selama lima menit agar etanol dalam cairan tersebut menguap. Dari hasil ekstraksi tersebut diperoleh pH sebesar 4 untuk perbandingan etanol: asam asetat: air sebesar (4: 0.2: 2) sedangkan untuk perbandingan (2: 0.2: 4) diketahui memiliki pH sebesar 5. Hal ini menunjukkan bahwa semakin rendah proporsi ethanol dan semakin tinggi proporsi air yang digunakan dapat meningkatkan konsentrasi karoten yang dihasilkan. G. KESIMPULAN Dari percobaan ekstraksi pewarna wortel tersebut dapat disimpulkan bahwa : 1. Ekstraksi wortel menghasilkan warna orange 2. Ekstraksi pewarna wortel dengan perbandingan pelarut etanol, asam asetat dan air sebesar ( 4: 0.2: 2) memiliki pH 4 3. pH dan pemanasan mempengaruhi stabilitas karoten pada wortel DAFTAR PUSTAKA Latifah, vyeh., 2011. Industri Pembuatan Bahan Pewarna & Pencelup. Diperoleh dari: http://id.scribd.com/doc/74243779/Makalah-Pemb-bahan-Pewarna diakses pada tanggal: 12-10-2012 Seran, emel., 2011. Pewarna Makanan. Diperoleh dari:http://wanibesak.wordpress.com /2011/06/01/pewarna-makanan/ diakses pada tanggal: 12-10-2012 Winarti, sri, dkk., 2008. Ekstraksi dan Stabilitas Ubi Jalar Ungu sebagai Pewarna Alami. Jurusan teknologi pangan UPN Veteran. Surabaya
Senin, 04 Juni 2012
Larutan penyangga
<div style="width:425px" id="__ss_13192324"><strong style="display:block;margin:12px 0 4px"><a href="http://www.slideshare.net/nadiah_husniah/script-of-buffer-solution" title="Script of buffer solution">Script of buffer solution</a></strong><object id="__sse13192324" width="425" height="355"><param name="movie" value="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=scriptofbuffersolution-120604081102-phpapp01&stripped_title=script-of-buffer-solution&userName=nadiah_husniah" /><param name="allowFullScreen" value="true"/><param name="allowScriptAccess" value="always"/><param name="wmode" value="transparent"/><embed name="__sse13192324" src="http://static.slidesharecdn.com/swf/ssplayer2.swf?doc=scriptofbuffersolution-120604081102-phpapp01&stripped_title=script-of-buffer-solution&userName=nadiah_husniah" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" wmode="transparent" width="425" height="355"></embed></object><div style="padding:5px 0 12px">View more <a href="http://www.slideshare.net/">presentations</a> from <a href="http://www.slideshare.net/nadiah_husniah">nadiah_husniah</a>.</div></div>
Sabtu, 19 Mei 2012
PERCOBAAN
VI
PENETAPAN
RUMUS DAN TETAPAN KESTABILAN KOMPLEKS
A. TUJUAN
Untuk
mempelajari bahwa dalam beberapa senyawa kompleks metode spektrofotometri dapat
digunakan untuk penetapan rumus dan tetapan kestabilan ion kompleksny. (1 hal. 21)
B. DASAR
TEORI
Spektrofotometri
merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada pengukuran serapan sinar
monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada panjang gelombamg spesifik
dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi difraksi dengan detektor fototube.
Spektrofotometer
adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi
panjang gelombang. Sedangkan pengukuran menggunakan spektrofotometer ini,
metoda yang digunakan sering disebut dengan spektrofotometri.
Spektrofotometri
dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual dengan studi yang
lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi oleh suatu sampel diukur
pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh suatu perkam untuk
menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen yang berbeda.
(4 hal. 1)
Menetapkan rumus
suatu kompleks secara spektrofotometri dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu
:
1.
Dengan metode variasi continue (methods of continue
variation)
2.
Dengan metode angka banding molar ( molar ratio methods)
3.
Dengan metode angka banding lereng (slope methods
ratio). (1 hal 21)
Azas-azas
I.
Azas Metode Variasi Kontinue
Metode variasi
continue boleh digunakan untuk penetapan rumus suatu kompleks hanya apabila
didalam larutan yang diberikan hanya terdapat satu macam kompleks saja antara
dua komponen yang bereaksi. Untuk menetapkan rumus kompleks dengan metode ini
sebaiknya dibuat larutan kation (M) dan larutan ligan pengompleks (L) yang
kemolarannya (konsentrasinya sama).
(1 hal.21-22)
II.
Asaz Metode Angka Banding Molar
Metode angka
banding molar untuk penetapan rumus dan kestabilan kompleks L (kompleks MmLl)
juga menggunakan sederet larutan campuran (M+L) tetapi konsentrasi L yang
divariasikan sedangkan reaktan lainnya M tetap dalam berbagai campuran.
(1 hal.23)
Contoh struktur
senyawa kompleks [Ni(EDTA)] :
(3 hal. 1)
Penentuan fraksi
mol suatu EDTA dari volume campuran NiSO4 dan EDTA dengan
konsentrasi yang sama.
· Jika NiSO4 3 ml dan EDTA 7 ml,
maka:
mol NiSO4 = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 3
= 0,24 mol
mol EDTA = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 7
= 0,56 mol
XEDTA = 
=
= 0,7
· Jika NiSO4 4 ml dan EDTA 6 ml,
maka:
mol NiSO4 = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 4
= 0,32 mol
mol EDTA = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 6
= 0,48 mol
XEDTA = 
=
= 0,6
· Jika NiSO4 5 ml dan EDTA 5 ml,
maka:
mol NiSO4 = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 5
= 0,40 mol
mol EDTA = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 5
= 0,40 mol
XEDTA = 
=
= 0,5
· Jika NiSO4 6 ml dan EDTA 4 ml,
maka:
mol NiSO4 = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 6
= 0,48 mol
mol EDTA = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 4
= 0,32 mol
XEDTA = 
=
= 0,4
· Jika NiSO4 7 ml dan EDTA 3 ml,
maka:
mol NiSO4 = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 7
= 0,56 mol
mol EDTA = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 3
= 0,24 mol
XEDTA = 
=
= 0,3
· Jika NiSO4 8 ml dan EDTA 2 ml,
maka:
mol NiSO4 = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 8
= 0,64 mol
mol EDTA = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 2
= 0,16 mol
XEDTA = 
=
= 0,2
· Jika NiSO4 9 ml dan EDTA 1 ml,
maka:
mol NiSO4 = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 9
= 0,72 mol
mol EDTA = M zat terlarut x volume larutan
= 0,08 M x 1
= 0,08 mol
XEDTA = 
=
= 0,1
(2 hal. 64)
C. ALAT
DAN BAHAN
1. Alat
a. Botol
semprot, 1 buah
b. Gelas
piala 100 mL, 1 buah
c. Pipet
ukur 10 mL, 2 buah
d. Rak
tabung reaksi, 1 buah
e. Spektronik,
1 buah dan
f. Tabung
reaksi, 7 buah
2. Bahan
a. Larutan
EDTA 0,08 M
b. Larutan
nikel sulfat; NiSO4 0,08 M
(1 hal 23-24)
D. PROSEDUR
KERJA
1. Dibuat
campuran NiSO4 0,08 M dengan EDTA 0,08 M sesuai tabeal berikut!
|
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
VII
|
|
Pereaksi
|
|||||||
|
volume NiSO4 (ml)
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
8
|
9
|
|
volume EDTA (ml)
|
7
|
6
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
|
Fraksi mol EDTA
|
...
|
...
|
...
|
...
|
...
|
...
|
...
|
2. Table 5.1 volume NiSO4 dan EDTA dan fraksi mol
EDTA
3. Ditentukan
absorban tabung II pada panjang gelombang 340 – 420nm, dengan selang 10 nm dan
sebagai blankonya digunakan aquades (pekerjaan ini untuk menentukan panjang
gelombang maksimum yang akan digunakan untuk mengukur sampel I sampai VII).
Bila sudah mendekati maksimum, diukur absorbansi dengan selang 10nm.
4. Diukur
absorbansi dari ketujuh larutan lainnya pada panjang gelombang maksimum yang
diperoleh dari hasil pengukuran absorbansi tabung II.
(1 hal. 24)
E. HASIL
PENGAMATAN
1.
Warna larutan NiSO4 = Biru
2.
Warna larutan EDTA = Bening
3.
Warna larutan campuran = Biru
4.
Pengukuran panjang gelombang;
Table
5.2 absorbansi penentuan panjang gelombang maksimum
|
Panjang gelombang (nm)
|
340
|
350
|
360
|
370
|
380
|
390
|
400
|
410
|
420
|
|
Absorbansi
(serapan)
|
0,102
|
0,167
|
0,263
|
0,357
|
0,362
|
0,344
|
0,261
|
0,163
|
0,091
|
5.
Pengukuran absorbansi;
Table
5.3 absorbansi kompleks EDTA-NiSO4 dengan variasi perbandingan
volume
|
Fraksi mol EDTA
|
0,7
|
0,6
|
0,5
|
0,4
|
0,3
|
0,2
|
0,1
|
|
Absorbansi
(serapan)
|
0,272
|
0,362
|
0,436
|
0,410
|
0,379
|
0,352
|
0,323
|
6.
Grafik


F. Pertanyaan
1. Buat
grafik untuk menentukan panjang gelombang maksimum!
Jawab :

2. Alurkan
nilai-nilai absorbansi dari ketujuh larutan diatas terhadap nilai fraksimol
EDTA
Jawab :

3. Tentukan
puncak dari grafik (dengan ekstrapolasi) dan dari grafik tentukan:
a. Rumus
molekul kompleks NiEDTA
HOOCH2 CH2COOH
C
O
+ 4H+ + SO4-
O
O
b. Tetapan
kestabilan kompleks NiEDTA
·
Amak
= 0,436
·
Aeksp
= 0,5
·
Cml
= 0,08 M
·
Cl = 0,08 M
·
Cm
= 0,08 M
Kstab = 

= 
= 
= 665,2832031
G. Pembahasan
Pada praktikum kimia anorganik 2 kali ini, melakukan
percobaan tentang penentuan rumus dan tetapan kestabilan kompleks dengan tujuan
untuk mempelajari bahwa dalam beberapa senyawa kompleks metode spektrofotometri
dapat digunakan untuk penetapan rumus dan tetapan kestabilan ion kompleks.
Pada percobaan ini menggunakan metode variasi kontinue
(methods of continous variation). Untuk menetapkan rumus kompleks dengan metode
ini sebaiknya dibuat larutan kation (M) dan larutan ligan pengompleks (L) yang
kemolaranya (konsentrasinya) sama.
Bahan dasar yang digunakan dalam praktikum ini adalah
larutan nikel sulfat dan larutan EDTA dengan konsentrasi yang sama yaitu 0,08
M. Nikel sulfat berperan sebagai pemberi warna/pengompleks untuk EDTA, karena warna
larutan nikel sulfat adalah biru sedangkan EDTA adalah bening, sehingga warna
NiSO4 ini sebagai komplementer. Dari kedua larutan ini kemudian
dibuat tujuh larutan campuran dalam tabung sebagai sampel pengujian, dimana
tabung II digunakan sebagai tolak ukur untuk menentukan panjang gelombang
maksimum, diantara ketujuh larutan campuran (sampel). Penentuan panjang
gelombang maksimum ini dilakukan dengan menentukan absorban tertinggi tabung II
(dalam spektrofotometer) pada panjang gelombang 340 nm – 420 nm, dengan selang
10 nm dan aquades sebagai blankonya. Aquades (blanko) ini berfungsi sebagai
pembanding analit (larutan yang diuji). Diperlukannya pembanding karena alat
yang digunakan adalah spektrofotometer double-beam, yang memang terdiri dari
dua sel konvet/dua sel absorbansi, yaitu untuk sampel dan blanko.
Setelah didapat panjang gelombang maksimum dari tabung II,
selanjutnya dilakukan pengujian sampel yang lain (tabung I,III-VII) dengan
memasukkan sampel pada spektrofotometer dan diukur absorbansinya. Setelah
didapat absorban dari ketujuh larutan lalu dibuat grafik agar diketahui
kurvanya, apakah telah sesuai dengan apa yang menjadi tujuan. Tetapi dari percobaan
yang dilakukan absorban yang didapat naik turun, hal ini disebabkan oleh
didalam larutan (sampel) masih terdapat partikulat atau zat pengotor yang
berterbangan didalam larutan yang mempengaruhi penyerapan cahaya oleh
spektrofotometer. Partikulat yang terdapat dalam sampel sebenarnya dapat
dihilangkan dengan cara setrifugasi.
H. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat
disimpulkan bahwa:
Dalam beberapa senyawa kompleks metode spektofotometri
dapat digunakan untuk penetapan rumus dan tetapan kestabilan ion kompleks.
Metode yang dapat digunakan dalam percobaan ini adalah metode variasi kontinue.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Majid,
Abdul dan Sukemi, 2012., Penuntun Praktikum Kimia Anorganik 2,
Laboratorium Kimia FKIP UNMUL; Samarinda hal.
21-24
2.
Rahayu,
N dan Giriarso JP, 2009., Rangkuman Kimia SMA, Gagas Media;
Jakarta hal. 64
3.
Anonim,
2011., Struktur Senyawa Kompleks Ni-EDTA, http://ellyavenofc- hemist.blogspot.com/2011/06/my-lovely-ni-edta-compleks.html.
hal.1
/artikel_kimia/kimia_analisis/spektrofotometri/hal. 1
Langganan:
Postingan (Atom)
























